Perempuan
Kupikir, dunia memang benar benar akan kiamat.
Setelah menyadari betapa saat ini ada banyak sekali perempuan.
Terlalu banyak!
Tidak seimbang, timpang.
Dan dari banyak perempuan itu, hanya sedikit yang bisa dijadikan contoh.
Hanya sedikit yang punya ‘kekayaan’ untuk dikagumi atau diteladani.
Bukan sekedar cantik. Karena sekarang jadi cantik itu mudah.
Banyak fasilitas, banyak media, banyak cara untuk jadi cantik.
Tapi cantik yang bagaimana dulu? Pertanyakan kembali.
Bukan pula sekedar pintar. Karena sekarang, banyak orang pintar dan tekun.
Semua sudah berjalan di atas ambisinya masing-masing.
Banyak pula media pendukung kepintaran.
Bukan sekedar punya uang, materi, berbalut pakaian mahal, perhiasan.
Karena itu suatu kefanaan. Nilainya akan musnah, tidak kekal.
Bukan sekedar pandai bergaul.
Karena, buat apa pandai bergaul tapi tidak mendalami betul makna hubungan dengan orang lain berikut cara menyayangi teman dan kerabat. Tapi terutama, keluarga.
Lantas, perempuan yang bagaimana?
Dari sekian banyak perempuan yang sudah pernah aku temui, aku kenal,
masih satu pelajaran yang kudapat :
“Semuanya berjalan menuju kiblat keperempuanan yang sama”
Aku pun perempuan. Tapi menyadari hal demikian aku kembali bertanya-tanya.
Aku pikir, rasanya mainstream sekali untuk jadi yang demikian.
Meski begitu, aku menyadari juga kalau di luar sana, masih ada mereka yang tidak mainstream dan bisa dicontoh.
Margaret Tatcher, Ibu Theresa, Siti Khadijah, Fatimah, Aung San Suu Kyi, Mesty Ariotedjo, dsb.
Nah,
kalau bisa beda dengan cara yang baik dan menjadi diri sendiri,
kenapa memilih untuk menjadi mainstream hanya demi kata popularitas?
#tanyakenapa
.
sebuah kontemplasi ringan yang selalu muncul ketika satu angkot dengan hampir semua penumpangnya adalah perempuan, dan ketika jalan di Mall lalu berpapasan dengan perempuan yang itu itu saja.

